Pertanyaan Tentang Aqidah dan Wawasan Agama Syiah

Pertanyaan Tentang Aqidah dan Wawasan Agama Syiah

Pertanyaan Tentang Aqidah dan Wawasan Agama Syiah

Ada banyak pertanyaan yang harus di tanyakan tentang aqidah dan wawasan syiah dan harus kita ketahui kebenaran jawabannya. Bukan jawaban dalam bentuk taqiyyah atau kebohongan yang syiah sampaikan.

1. Apakah Anda tahu sikap Syiah kepada al Quran?

Bahaya Syiah jelas jika melihat kepada pandangan mereka terhadap kitab suci al-Quran. Syiah tidak menganggap kitab suci al-Quran adalah kitab yang terpelihara. Bahkan mereka beranggapan sudah berlaku penyelewengan pada ayat-ayat al-Quran.


Buktinya,

Adalah nas yang dikemukakan oleh al-Kulaini yaitu ulama hadis Syiah dalam kitab hadisnya al-Kafi dengan menyatakan bahwa: “Daripada Hisham bin Salim, daripada Abi
Abdillah, a.s berkata, al-Quran yang didatangkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak 17,000 ayat”.

Pegangan golongan Syiah ini jelas menunjukkan bahawa mereka beranggapan al Quran yang ada pada umat Islam hari ini masih tidak sempurna sebab ayat al-Quran yang ada hanya berjumlah 6,236 ayat saja, sedangkan orang syiah beranggapan bahawa al-Quran sebenar yaitu yang dikenali sebagai mushaf Fatimah mengandungi 17,000 ayat.

Ini bermakna dua pertiga ayat al-Quran sudah diselewengkan dan dihilangkan. Pegangan Syiah ini jelas sesat sebab Allah SWT sudah menjamin kesucian al-Quran. Kitab suci Al-Quran terpelihara sampai hari kiamat, tidak akan berlaku penyelewengan terhadap al-Quran walau satu huruf sekalipun. Firman Allah SWT dalam surah al-Hijr ayat 9 bermaksud: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya.”

Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Fussilat ayat 41-42 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar kepada al-Quran saat sampainya kepada mereka, (akan ditimpa azab siksa yang tidak terperikan) sedang al-Quran itu, demi sesungguhnya sebuah Kitab suci yang tidak dapat ditandingi, yang tidak dapat
didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya. Ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Terpuji.”

 

2. Apakah Anda sadar bagaimana sikap Syiah tentang Hadits?

Golongan Syiah menolak hadist-hadist yang terdapat dalam sahih Bukhari, sahih Muslim, sunan al-Tirmidzi dan kitab-kitab hadist ahli sunah yang lain. Mereka menolak
mentah-mentah hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Bagi mereka, kitab hadist yang menjadi pegangan mereka adalah al-Kafi tulisan al-Kulaini, yang diriwayatkan daripada Imam Maksum.

Orang syiah juga menganggap para sahabat menjadi kufur dan murtad sesudah kewafatan Rasulullah SAW. Al-Kulaini yang dianggap oleh golongan Syiah setaraf dengan Imam Bukhari meriwayatkan bahawa para sahabat sudah murtad sepeninggalan Rasulullah SAW kecuali tiga orang daripada mereka yaitu Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.

Ini jelas menunjukkan kebiadaban orang Syiah sebab perbuatan mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad SAW sedangkan para sahabat mendapat tarbiah secara langsung daripada baginda. Secara tidak langsungnya, pengikut Syiah juga telah memperkecilkan serta menghina Rasulullah SAW.

Golongan Syiah juga sangat biadab terhadap para isteri Rasulullah SAW dengan mengatakan bahawa Saidatina Aisyah dan Saidatina Hafsah sebagai munafik dan kafir.
Pengikut syiah mendatangkan riwayat palsu yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafsahlah yang telah meracuni Rasulullah SAW sehingga mengakibatkan kewafatan baginda.

3. Semua hadist yang tidak berasal dari jalur Ahlul Bait tidaklah diterima

Salah satu rujukan orang syiah, Muhammad Husain alu Kasyifil Ghitha, berkata,”Sesungguhnya Syiah tidak menganggap (sesuatu) sebagai sunnah, kecuali hal-hal yang
telah sahih untuk mereka melalui jalur-jalur Ahlul Bait ….”
Adapun riwayat Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, ‘Amr bin’ Ash, dan seumpamanya, itu tidaklah bernilai (contohnya) seekor lalat di kalangan orang-orang Syiah Imamiyyah. [Ashlush Syiah wa Ushûluhu hal. 79]

Asy-syahid Nûrullâhi At-Tastury berkata, “… (Hal itu) sebab Al-Bukhary, Muslim, dan seumpamanya adalah para pemalsu hadis lagi para pendusta di kalangan Syiah. Bahkan, karena banyak alasan, mereka menetapkan kedunguan dan pendeknya pemahaman Al-Bukhary perihal membedakan antara (hadist) sahih dan dha’if. “[As-Shawârimul Muhriqah hal. 57]

Terlebih lagi, menurut syiah, orang yang mengambil riwayat dari selain Ahlul Bait adalah musyrik. Dalam sebuah riwayat dalam buku dipercayai mereka, disebutkan bahawa Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq menyatakan, “…Dan siapa saja yang mengaku mendengar dari selain pintu yang Allah buka untuknya, dia adalah musyrik ….”
[Ushulul Kafy 1/439, tahqiq Muhammad Jaafar Shamsuddin, terbitan Darut ta’aruf, Beirut, Lebanon, 1990 M/1411 H]

Dan salah satu bab Ushulul Kafy 1/464 berjudul “Sesungguhnya Tiada Suatu Kebenaran di Tangan Manusia, Kecuali dari Apa-Apa yang keluar dari Sisi Para Imam (‘A), Sedang Segala Sesuatu yang Tidak keluar dari Sisi Mereka adalah Batil.”

Jika keyakinan kaum Syiah terhadap hadist-hadist Rasulullah SAW yang berada di tangan kaum muslimin sudah sedemikian rupa, bermakna kaum Syiah sudah menolak agama Islam ini dan mendustakan sumber kedua yang menjadi rujukan kaum muslimin.

Allah SWT telah berfirman,

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

“Segala sesuatu yang Rasul datangkan kepada kamu, terimalah, sedang segala sesuatu yang dia larang kepada kamu, tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]

4. Adakah orang Syiah mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?

Syiah pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.”
Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah anda sungguh – sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?”
Mereka pasti akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

Lalu tanyakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah ahli keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai
sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Rasulullah SAW lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, namun kemudian melupakan Nabi? “

Faktanya,

Ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya berasal dari Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya syiah lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau.

Syiah memuliakan Ahlul Bait sebab mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada isi buahnya.”

5. Ahlul Bait dan Istri Nabi Muhammad

Tanyakan kepada pengikut Syiah: “Siapa yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?”
Nanti syiah akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.”
Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan istri-istri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafsah, Zainab, Ummu Salamah, dan lainnya? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan? “
Syiah akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.
Kemudian tanyakan kepada orang Syiah itu: “Bagaimana boleh anda memasukkan anak saudara Nabi (Ali) sebagai sebagian dari Ahlul Bait, sementara istri-istri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait?
Bagaimana boleh cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait?
Bagaimana boleh Fatimah lahir ke dunia, jika tidak melalui istri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha?
Bagaimana boleh Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui istri Ali, yaitu Fathimah?
Tanpa kehadiran para istei solehah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.

Faktanya,

dalam Surah Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (Bahwa Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya).
Dalam ayat ini istri-istri Nabi TERBUKTI termasuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘anhunna.

6. Islam dan Sahabat Nabi

Tanyakan kepada orang Syiah: “Adakah anda beragama Islam?”
Maka syiah akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah muslim. Kami ini islam. “
Lalu tanyakan lagi:” Bagaimana cara Islam sampai kepada anda,  hingga anda menjadi seorang Muslim? “
Maka pengikut syiah itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Bermula dari Rasulullah SAW, lalu para sahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para pendakwah ke seluruh dunia, sehingga sampai kepada negara. “
Kemudian tanyakan kepada syiah : “Jika anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa anda sangat membenci para sahabat nabi, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melalui tangan para sahabat nabi itu? Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan sahabat nabi. Bila demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para sahabat? “

Faktanya,

Orang Syiah sangat mengelirukan. Mereka mencaci-maki para sahabat nabi dengan sangat keji. Namun di sisi lain, syiah masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci sahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim.
Sebuah pepatah yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam sekarang, tanpa peranan para sahabat!”

7. Imam Syiah

Jika ditanyakan kepada orang Syiah: “Apakah anda meyakini adanya imam dalam agama?”syiah pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami. “
Lalu tanyakan lagi: “Siapa imam-imam yang anda yakini sebagai teladan dalam agama?”
Maka syiah akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).
Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak disebutkan nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafie, dan Imam Hambali?
Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah?
Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam mazhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam mazhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah? “

Faktanya,

Kelompok Syiah tidak mengiktiraf empat imam mazhab ahlul sunah sebagai bagian daripada imam-imam mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12″ atau Imamah Itsna Asyari. Ini merupakan bukti besar, bahwa SYIAH BUKAN AHLUSSUNNAH! dan Syiah Buka Islam.

Semua Ahlus Sunnah di muka bumi ini sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksudkan adalah empat imam mazhab rahimahumullah.

8. Allah dan Imam Syiah

Jika ditanyakan kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih anda taati, Allah SWT atau imam Syiah?”
Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.”
Lalu tanyakan lagi: “Mengapa anda lebih taat kepada Allah?”
Mungkin syiah akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita.
Maka sudah sewajarnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu. “
Kemudian tanyakan kepada orang syiah : “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah mengapa anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al-Quran)?
Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah?
Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al-Quran? “

Faktanya,

Sikap ideologi kaum Syiah DEKAT KEPADA KEMUSYRIKAN, sebab mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah.
Padahal dalam Surah An-Nisaa ‘ayat 59 disebutkan, “jika berlaku satu saja pertikaian, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Itulah sikap Islam, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

9. Ali dan jabatan Khalifah

Bila ditanyakan kepada pengikut Syiah: “Menurut anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah selepas Rasulullah SAW wafat?”
Syiah pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Talib lebih berhak menjadi Khalifah.”
Setelah itu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman? “
Maka kemungkinan syiah akan menjawab lagi : “Menurut riwayat ketika peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah SAW mengatakan bahaa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”
Setelah itu katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Talib yang paling berhak atas jawatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menyalahi kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Ustman?
Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah?
Mengapa saat telah menjadi Khalifah, Khalifah Ali ra’ tidak pernah mengkritik Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kuasa? Kalau menyalahkan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Talib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu. “

Faktanya,

Husein bin Ali bin Abi Talib ra’ berani menggugat kepimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali bin Abi Talib ra’ lebih berani melakukan hal itu.

10. Ali bin Abi Talib ra’ dan Husein ra’

Tanyakan kepada pengikut Syiah: “Menurut anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?”
Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Talib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak peperangan di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam. “Atau boleh saja ada pendapat di kalangan Syiah bahawa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.
Kemudian tanyakan kepada dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tarikh 10 Muharram?
Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Talib?
Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana?
Bahkan beliau wafat saat memikul tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya,

Peringatan Hari Asyura sudah seperti “Iedul Fitri” bagi kaum Syiah. Hal itu bagi memperingati kematian Husein bin Ali.
Kalau kaum Syiah konsisten, seharusnya syiah memperingati kematian Ali bin Abi Talib RA’ lebih dahsyat lagi.

11. Syiah dan Wanita

Jika ditanyakan kepada orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?”
Syiah akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajar memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzalimi hak-hak mereka? “
Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat penting bagi kaum wanita Muslimah?” Orang syiah pasti akan menegaskan kembali.
Setelah itu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Bila Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah?. Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzalimi hak-hak wanita?”

Dalam nikah mut’ah:
-seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka.
-Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik.
-Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami.
-Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak boleh mengikuti suaminya jika ikatan kontraknya telah habis.
Kedudukan wanita dalam ajaran Syiah lebih buruk kedudukannya dari kedudukan binatang ternak. Binatang ternak yang hamil dipelihara baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil selepas nikah mut’ah, disuruh memikul risiko sendiri.

Faktanya,

Orang Syiah sama sekali tidak memberikan tempat penting bagi kaum wanita. Hal ini sangat berbeda sekali dengan ajaran Sunni.
Di negara-negara seperti Iran, Iraq, Libanan, dll. Amalan nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran.
Padahal tujuannya sama untuk menghambakan pada kebebasan seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama ‘agama’ Syiah.
Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

12. Syiah dan Politik

Bila ditanyakan kepada kaum Syiah: “Dalam pandangan anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?”
Mereka akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya sebagian daripada agama.”
Kemudian tanyakan kembali : “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?”
Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak boleh. Agama mesti mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”
Setelah itu tanyakan kepada orang Syiah itu: “Kalau perkataan anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya?
Mengapa hal-hal ini sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi kepentingan urusan akidah, ibadah, fiqh, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll yang merupakan pokok-pokok dalam ajaran agama?
Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah syiah melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah? “

Faktanya,

Ajaran Syiah adalah contoh telanjang saat agama dijajah (ruang tambahan) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan bahan politiknya tertumpu pada sikap kebencian
mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah.
Dalam hal ini akidah Syiah sangat mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dibangunkan Zionis antara bangsa, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi di sana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

13. Tentang “Syiah dan Sunni”

Silahkan tanyakan kepada orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni?
Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)? “
kaum syiah tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni.
Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, sebab kita sama-sama mengerjakan solat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”
Tanyakan juga kepada dia: “Jika Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni. Mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Usman, istri-istri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafsah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para sahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni. “

Fakta yang perlu disebut.
Sangat banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Iraq, Syria, Yaman, Lebanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal ini adalah bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Sampai anak-anak Muslim asal Palestina yang menjadi pelarian di Iraq, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah.
Keadaan ini juga yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah fikiran tentang Syiah. Jika sebelum ini beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahawa perbedaan akidah antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan.
Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahaa orang Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kafir. Justru mereka sering bekerjasama dengan negara kafir dalam rangka menghadapi kaum Muslimin.
Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid di Mesir, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Ustmaniyah, di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah kepada kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara sekutu di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para analisis Syiah dari Iran.

Demikianlah Pertanyaan Tentang Aqidah dan Wawasan Agama Syiah asas yang kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini boleh dimanfaatkan untuk secara praktikal melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah. Amin Allahumma amin.

Jika ada benarnya, hal itu semata merupakan kurniaan Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal ‘Afwu minkum katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa’iril Muslimin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

Dari berbagai sumber
Group Muhammadiyahku di susun Irfan hadayat
Syiah Bukan Islam

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply