Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 621 M, 3 tahun sebelum hijrah, saat Nabi Muhammad SAW berusia 51 tahun. Peristiwa luar biasa ini terjadi mulai dari lepas tengah malam hingga menjelang waktu subuh waktu Mekah.

Isra’ Mi’raj berasal dari dua kata yaitu: Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan malam, dalam hal ini perjalanan dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsa. Sedangkan Mi’raj berarti naik ke langit, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah sebuah peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam, sebab dalam peristiwa Isra Mi’raj ini diperoleh perintah untuk melakukan sholat yang diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yaitu Sholat Wajib Lma Waktu. Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq dalam peristiwa Isra Mi’raj ini.

Buraq merupakan binatang yang putih, panjang, lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari baghal (baghal: hewan peranakkan dari kuda dan keledai). Buroq mempunyai empat kaki. Buraq ini bisa meloncat sejauh batas pandangannya, kedua telinganya selalu bergerak. Bila menaiki gunung, kedua kaki belakangnya memanjang dan bila menuruni jurang kedua kaki depannya yang memanjang. Dia memiliki dua sayap pada kedua pahanya yang bisa membantu dan memperkuat kecepatannya.

Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW sedang mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Rasulullah baru ditinggalkan oleh istrinya tercinta, Khadijah.Selain itu, beliau juga ditinggalkan oleh pamannya, Abu Thalib yang sangat melindungi Nabi Muhammad. Sepeninggalan kedua orang yang sangat beliau sayangi tersebut, membuat beliau sangat berduka cita. Karena itu Allah SWT menghibur Nabi Muhammad dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit Sidratul Muntaha untuk bertemu dengan Allah SWT dan mendapat perintah Shalat lima waktu.

 

Hadits tentang Isra’ Mi’raj Nabi

Riwayat tentang perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dan diangkatnya beliau ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah dan menerima perintah kewajiban shalat lima waktu terdapat dalam Kitab Hadits Shahih milik Imam Muslim:

“…dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.” Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.” Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Dan aku pun memilih susu”.

Lalu Jibril berkata, ‘Kamu telah memilih fitrah’. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutus? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutus.’ Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad‘. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami.

Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad‘. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: ‘(Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi derajatnya) ‘. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad‘. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissalam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu.

Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad‘. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan‘. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawabnya, ‘Jibril‘. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad‘. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur).

“Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan.” Beliau bersabda: “Ketika beliau menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa Alaihissalam, dia bertanya, ‘Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ‘ Beliau bersabda: “Shalat lima puluh waktu’. Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka’. Beliau bersabda: “Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku’. Lalu Allah subhanahu wata’ala. mengurangkan lima waktu shalat dari beliau’. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangkan lima waktu shalat dariku’. Nabi Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Beliau bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya’. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menjawab, ‘Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya’.”
Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra’ Rasulullah ke langit, hadits nomor 234.

Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini sangat penting bagi umat Islam, sebab selain mendapat perintah Sholat Lima Waktu. Rosulullah SAW juga banyak mendapat gambaran mengenai Surga dan Neraka, serta bertemu dengan banyak Nabi sebelumnya.

Perumahan Syariah

Advertisement

Trackbacks/Pingbacks

  1. Isra Nabi Muhammad SAW dalam Isra mi'raj | Kabar Islam - August 13, 2015

    […] Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 621 M, 3 tahun sebelum hijrah, saat Nabi Muhammad SAW berusia 51 tahun. Isra’ Miraj berasal dari dua kata yaitu: Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan malam, dalam hal ini perjalanan dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsa. Adapun Mi’raj berarti naik ke langit, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit 7 hingga ke Sidratul Muntaha. Peristiwa luar biasa ini terjadi mulai dari lepas tengah malam hingga menjelang waktu subuh waktu Mekah. […]

Leave a Reply