Perbedaan Puasa Syiah Dengan Puasa Nabi

Perbedaan Puasa Syiah Dengan Puasa Nabi

Perbedaan Puasa Syiah Dengan Puasa Nabi

Semua amal seseorang dikendalikan oleh ideologinya. Berbeda ideologi akan merambah pada perbedaan praktek ibadah, akhlak, bahkan muamalah. Saat kita membandingkan antara praktek ibadah Syiah dengan  praktek ibadah yang diajarkan Nabi Muhamad SAW, kita akan mendapatkan sekian banyak perbedaan. Demikian pula akhlak dan muamalah antara Syiah dengan yang diajarkan Nabi Muhamad SAW.

 

 

Perbedaan Puasa Syiah Dengan Puasa Nabi

Pertama, bulan Ramadhan bukan bulan istimewa

Bagi Syiah, bulan Ramadhan bukan merupakan bulan istimewa untuk beribadah. Suasana semarak ibadah di bulan Ramadhan, tidak seramai suasana bulan Muharram atau bulan Sya’ban. Seolah Syiah hendak mengumumkan ke seluruh dunia, bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk ahlus sunnah dan tidak ada yang istimewa bagi syiah. Menurut syiah bulan Ramadhan memang bulan untuk puasa, namun bukan bulan untuk rajin ibadah.

Kedua, wajib berbuka ketika safar

Bagi Syiah, orang yang melakukan safar atau melakukan perjalanan puasanya batal. Artinya, orang tersebut wajib berbuka. Lebih anehnya lagi, hanya dengan melintasi sebuah jembatan yang memisahkan dua daerah, sudah dianggap safar dan wajib berbuka.

Kesaksian Dr. Thaha Ad-Dailami dalam buku beliau Siyahah fi ‘Alam Tasyayyu’ (Perjalanan di Negeri Syiah), menurut beliau, “Orang Syiah terlalu menganggap mudah dalam memberikan udzur berbuka. Mereka mewajibkan berbuka untuk setiap safar dengan jarak paling dekat. Sebagai contoh, ada siswa yang hendak menjalani masa ujian. Tokoh mereka memfatwakan agar siswa ini melakukan safar dekat setiap hari ke daerah yang dekat, jarak perjalanan pulang pergi ditotal menjadi jarak safar. Kemudian dia boleh tidak berpuasa.”

Ketiga, tarawih merupakan bid’ah

Bagi orang Syiah, tarawih merupakan bid’ah. Mereka menganggap tarawih tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhamad SAW. Menurut mereka, tarawih adalah ajaran Umar bin Khatab ra. Karena kebencian mereka kepada Umar, mereka menolak sunah shalat tarawih ini mentah-mentah. Dan mencap sesat kaum muslimin yang melaksanakan tarawih. Bahkan mereka menyebut, orang yang melakukan tarawih sama halnya menjadikan Umar sebagai nabi. Subhaanallah, ini merupakan tuduhan dusta mereka.

Keempat, berbuka setelah awan merah menghilang

Salah satu kebiasaan Syiah adalah berbuka sesudah betul-betul masuk waktu malam. Di saat awan merah di ufuk sudah menghilang dan bintang mulai terbit.

Dalam kitab Wasail As-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-Amili, dinyatakan, Bab: waktu berbuka adalah sampai hilangnya mega merah di ufuk timur, dan tidak boleh sebelumnya. Di bawah judul bab ini, selanjutnya dia membawakan beberapa riwayat dusta atas nama Ahlul Bait, diantaranya: “Dari Zurarah, saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far – alaihis salam – tentang waktu berbuka bagi orang yang puasa? Beliau menjawab: ‘Ketika telah terbit 3 bintang.’,”

Kelima, hubungan intim ketika puasa

Yang tidak akan pernah ketinggalan ketika membahas Syiah, masalah ranjang dan kemaluan. Untuk menemukan fatwa unik mereka tentang itu, sangat mudah dan sangat banyak. Dari mulai nikah mut’ah, mengawini binatang, homo, sampai menjadikan istri orang sebagai gundik mut’ah. Jika kita membaca fatwa tokoh-tokoh mereka tentang masalah sek*s, kita mungkin akan membuat kesimpulan bahwa sebagian besar penduduk Iran adalah anak zina. Saking merebaknya zina legal (mut’ah) di Iran.

Tak terkecuali sek*s ketika Ramadhan. Mereka memberi kelonggaran sangat luas bagi umat Syiah untuk memuaskan dirinya dengan mukadimah hubungan. Boleh secara sengaja melakukan pemanasan, selama tidak sengaja melakukan hubungan.

Dalam kitab Minhaj As-Shalihin, karya Al-Khou’i, dia menjelaskan, “Tidak batal puasa seseorang yang melakukan petting, kemudian secara tidak sengaja zakar masuk ke salah satu lubang (qubul atau dubur). Jika sengaja jimak, namun ragu apakah tadi sudah masuk semua atau ragu berapa yang sudah masuk dari hasyafah, maka puasanya batal, namun dia tidak wajib membayar kaffarah,” (Minhaj As-Shalihin, 1/263).

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply