Mengingat Kembali Nasihat Kiai Ahmad Daerobi

Mengingat Kembali Nasihat Kiai Ahmad Daerobi

Bersatu Umat Islam

Bersatu Umat Islam

Saat ini perpecahan pada umat Islam seringkali diawali dengan sikap ashabiyah atau fanatik terhadap kelompoknya. Baik itu antar harakah Islam ataupun ormas Islam saling mengklaim bahwa kelompoknya yang paling benar, sedangkan kelompok lain banyak salahnya.

Padahal, setiap harakah Islam mempunyai tujuan sama yaitu tegaknya dakwah Islam. Dan dalam menengak dakwah Islam ini, setiap harakah Islam mempunyai ciri khas yang berbeda dengan harakah-harakah Islam lainnya.

Di tengah banyaknya fitnah perpecahan kalangan Ahlus Sunnah ini,  nasihat dari guru Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur Ahmad Dairobi tiba-tiba menyentak kesadaran kalangan Muslim di Indonesia pada tahun 2014 lalu.

Banyak yang tersadarkan oleh nasihat beliau, namun ada juga yang tetap merasa paling benar. Untuk itu beberapa waktu lalu Ustadz Muhammad Arifin Ilham  juga mengajak umat Islam untuk menyimak kembali nasihat Kiai Ahmad Daerobi ini

Islam bersatu

Nasihat Kiai Ahmad Daerobi

“Diam-diam ternyata saya menyukai semangat FPI dalam memberantas kemunkaran. Saya tahu, kadangkala ada yg salah dalam aksi mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yg takut dan tak peduli dengan kemunkaran yg merajalela.

Diam-diam ternyata saya menyukai semangat dan ketulusan Jamaah Tabligh dalam meramaikan salat berjemaah di masjid. Saya tahu, kadangkala ada yg salah dalam tindakan sebagian mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yg tidak melakukan apa- apa saat tetanggaku banyak yang tidak salat.

Diam-diam ternyata saya menyukai semangat Hizbut Tahrir dalam membangun khilafah. Saya tahu, ada yg salah dalam sebagian konsep khilafah mereka. Namun, kesalahakanku yg tak mau berbuat apa-apa untuk penegakan syariat Islam, jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.

Diam-diam ternyata saya menyukai cara berpolitik orang-orang PKS. Saya tahu, mereka banyak dihuni oleh tokoh-tokoh di luar Nahdlatul Ulama; dan yg namanya partai politik pasti cukup banyak kesalahan oknum mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku memilih partai yg cenderung sekuler dan anti penerapan syariat Islam.

Bahkan, diam-diam ternyata saya juga suka dg keberanian Al-Qaidah dalam melawan kezaliman politik Amerika dan Israel. Aku tahu, mereka melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahanku yg tidak peduli dg nasib umat Islam jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.

Dan, dengan terang-terangan saya menyatakan sangat mengagumi Nahdlatul Ulama. Yakni, NU yang sesuai dg pandangan Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari.
Bukan NU yang menjadi kendaraan politik.
Bukan NU yang dipenuhi kepentingan pragmatis.
Bukan NU yang menjadi pembela Syiah dan Ahmadiyah.
Bukan NU yang melindungi liberalisme.
Dan, bukan NU yg menjadikan Rahmatan Lil Alamin sebagai justifikasi untuk ketidakpeduliannya terhadap perjuangan penegakan syariat”.

Kiai Ahmad Dairobi mengakui bila tulisan ini pertama kali ia tulis melalui akun Facebooknya pada 23 November 2014. Namun beliau tidak menyangka tulisan ini akan menjadi pembicaraan masyarakat.

“Niat saya, agar antar gerakan Islam saling menjaga ukhuwah. Jangan sampai ashobiyyah dan fanatik buta pada organisasi masing-masing menutup pintu kebaikan kelompok lain, “ ujarnya, Selasa (25/11/2014).

Semoga semua umat Islam mau kembali bersatu, kembali kepada Islam yang hak secara kaffa. Yang sesuai syariat Islam, Al qur’an dan Al hadis. Tidak saling membenarkan goongan sendiri dan mencela golongan lain. Islam Adalah Islam, tanpa embel-embel dibelakangnya.

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply