LAKI-LAKI YANG DIAM-DIAM MENJAGA KERINDUAN PADA NEGERI LANGIT

LAKI-LAKI YANG DIAM-DIAM MENJAGA KERINDUAN PADA NEGERI LANGIT

Sungguh aku merindukan sosok wakil rakyat yang tetap hidup sederhana meski dia berada di komisi strategis kebijakan nasional, dan di media massa sebagai anggota dewan diberitakan mendapat gaji dan fasilitas fantastis. Tapi dia tidak berubah seperti sebelum menjadi anggota dewan. Tetap hidup sederhana. Tetap memiliki usaha sampingan seperti berdagang barang kelontong bersama istrinya dan sesekali mengisi pengajian dan khotbah Jum’ah di masjid.

Lalu seorang tamu asing datang berkunjung dan setelah berbasa-basi lalu bertanya mengapa Beliau tidak mengalami peningkatan taraf hidup yang ‘layak’ dan ‘wajar’ seperti teman-teman lainnya anggota dewan yang terhormat?

Beliau tersenyum lalu membuka sebuah rahasia sederhana kepada sang tamu asing itu, “Afwan ya akhi. Sampai hari ini ane dan istri belum pernah menyentuh sedikitpun rezeki berupa gaji dan tunjangan serta fasilitas sebagai anggota dewan. Kalaupun terjadi, itu pun dalam keadaan sangat terpaksa.”

“Maaf, pak. Apakah sekretariat DPR-RI tidak memberikan hak Bapak sebagai anggota dewan?” Tanya si tamu penuh terkejut.

“Bukan… bukan begitu. Mereka tidak pernah lupa menunaikan kewajibannya soal itu. Mereka professional dan tepat waktu. Hanya saja….Hanya saja ane dan istri sepakat memarkir rezeki itu di luar dan tidak memakainya sama sekali. Kami sudah bisa hidup dengan berdagang barang kelontong dan berceramah kesana kemari. Ane dan istri juga anak-anak sudah bahagia dengan keringat halal kami sendiri, bukan keringat, air mata apalagi darah para pemilih kami saat pemilu kemarin, juga bukan jasa partai yang harus ane bayar balik sebagai kompensasinya. Dan kapanpun ane selalu siap bila harus dicopot dari amanah ini. Ane tidak takut dengan fitnah dunya….”

Tamu asing itu terdiam. Hatinya bicara bahwa lelaki dan keluarganya ini tidak akan mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan apapun termasuk intrik-intrik licik yang tujuannya adalah kekuasaan. Tamu asing itu sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang lelaki yang negeri syurga akhirat adalah rumahnya, bukan tanah bumi yang penuh permainan dalam permainan, penuh fitnah dalam fitnah dan skenario dalam skenario yang bukan ridho Allah tujuannya. Tamu asing itu lalu pamit, meninggalkan lelaki bersahaja yang masih menggenggam dunya di tangannya saja tetapi tetap menjaga cahaya akhirat dalam hatinya. Sebab Hidup adalah Cinta.

~ Irfan Hidayat 18052013 @ bumi Depok – sebab Hidup adalah Cinta

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply