Imam Bukhari

Imam Bukhari

shahih al bukhari

Biografi Imam Bukhari

Imam Bukhari yang memiliki nama asli Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari merupakan seorang ahli hadits yang termasyhur di antara para ahli hadits sejak dulu sampai kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah. Bahkan di dalam kitab-kitab Fiqih dan Hadits, hadits-hadits beliau mempunyai derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang hadits, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Imam Bukhari merupakan ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu sampai kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan di dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau mempunyai derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

 

Masa Kecil Imam Bukhari

Beliau memiliki kakek bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Sedangkan orangtuanya, Mughoerah / Ismail bin Ibrahim, sudah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, beliau juga tidak dapat melihat sebab buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.

Ayah beliau Ismail bin Ibrahim memberinya nama Muhammad. Imam turmudzi termasuk yang sering menggunakan nama asli beliau dalam komentarnya sesudah meriwayatkan hadits dalam Sunan Turmudzi. Kuniah beliau adalah Abu Abdullah. Dan di karenakan lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah, beliau dikenal sebagai al-Bukhari. Dengan demikian nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Imam Bukhari lahir pada tanggal 21 Juli 810 M (13 Syawal 194 H) dan wafat pada 31 Agustus 870 M (256 H).

Imam Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Didalam kitab ats-Tsiqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya merupakan seorang ulama bermadzhab Maliki dan seorang murid dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat saat Imam Bukhari masih kecil.

Imam Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang termasyhur di Bukhara. Saat usia 16 tahun beliau mengunjungi kota suci terutama Mekkah dan Madinah bersama keluarganya, dimana dikedua kota suci tersebut beliau mengikuti kuliah para guru besar hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertama Kazaya Shahabah wa Tabi’in, hafal kitab-kitab hadits karya Mubarak dan Waki bin Jarrah bin Malik. Bersama gurunya Syekh Ishaq, menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan 80.000 perawi disaring menjadi 7275 hadits.

Kejeniusan Imam Bukhari

Imam Bukhari diakui mempunyai daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Namun tidak seperti murid lainnya, Imam Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Beliau sering dicela membuang waktu sebab tidak mencatat, namun Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan tersebut, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Saat sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan tersebut, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, sebab beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, hingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Penelitian Hadits

Guna mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Imam Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun guna mengunjungi berbagai kota untuk menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad hingga ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota tersebut, beliau bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang beliau hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Di dalam meneliti dan menyeleksi hadits serta berdiskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang beliau lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya beliau berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sedangkan kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui hingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Guna memperoleh keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits, beliau berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang beliau katakan “Saya sudah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Disela-sela kesibukannya sebagai seorang ulama, pakar hadits, beliau juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah hingga mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karya beliau tidak hanya didalam disiplin ilmu hadits, namun juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat hingga Imam Bukhari menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, hingga memiliki otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), namun juga terkadang dapat berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu ketika beliau dapat sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan dapat pula berbeda pendapat dengan mereka.

Diantara puluhan kitab beliau, yang paling termasyhur adalah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik dalam penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, seolah-olah Nabi Muhammad saw berdiri dihadapannya. Imam Bukhari kemudian menanyakan makna mimpi tersebut kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab “Al-Jami ‘as-Shahih”.

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, beliau mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits tersebut benar-benar shahih”. Di Masjidil Haram-lah beliau menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.

Sesudah itu beliau menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah sesudah itu beliau mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Imam Bikhari memakai kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya bisa dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh beliau meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi hingga benar-benar mendapat kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Beliau juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya.

“Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”, katanya pada suatu ketika.Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami’ as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali kepada beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (sesudah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata disebabkan perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Karya Imam Bukhari antara lain:

Karyanya yang pertama berjudul “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya saat masih berusia 18 tahun. Saat menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sini  beliau menulis kitab “At-Tarikh” (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, “Saya menulis buku “At-Tarikh” di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama”.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : “Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”

Karya Imam Bkuhari

  1. Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari
  2. Al-Adab al-Mufrad
  3. Adh-Dhu’afa ash-Shaghir
  4. At-Tarikh ash-Shaghir
  5. At-Tarikh al-Ausath
  6. At-Tarikh al-Kabir
  7. At-Tafsir al-Kabir
  8. Al-Musnad al-Kabir
  9. Kazaya Shahabah wa Tabi’in
  10. Kitab al-Ilal
  11. Raf’ul Yadain fi ash-Shalah
  12. Birr al-Walidain
  13. Kitab ad-Du’afa
  14. Asami ash-Shahabah
  15. Al-Hibah
  16. Khalq Af’al al-Ibad
  17. Al-Kuna
  18. Al-Qira’ah Khalf al-Imam

Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikan Imam bukhari. Beliau berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.” Namun tidak lama kemudian beliau mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : “Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Sesudah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan hingga tiga kali.

Namun orang itu terus mendesak. Hingga beliau juga menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Namun dengki dan iri adalah buta dan tuli.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari pernah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.” Di lain kesempatan, beliau berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Wafatnya Sang Imam

Suatu ketika penduduk Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri tersebut. Imam Bukhari kemudian pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, beliau singgah terlebih dahulu guna mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Imam Bukhari dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, beliau berpesan bahwa bila nanti meninggal jenazahnya supaya dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.

Sumber Refferensi

hadits web
Wikipedia Indonesia
Ibn Rahwayh, Is?aq (1990), in Balushi, ?Abd al-Ghafur ?Abd al-?aqq ?usayn, Musnad Is?aq ibn Rahwayh (ed. 1st), Tawzi? Maktabat al-Iman, hlm. 150–165
(Arab) Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Al-Adab al-Mufrad (http://www.sahab.org/books/count.php?book=284&action=download&goto=files/hadeeth/aladbalmfrd.zip).
(Inggris) —–. Al-Adab al-Mufrad. http://bewley.virtualave.net/AdabMufrad.html

(Arab) —–. Adh-Dhu’afa ash-Shaghir (http://www.sahab.org/books/count.php?book=289&action=download&goto=files/hadeeth/aldafaalsghir.zip).
(Arab) —–. At-Tarikh al-Ausath (http://www.sahab.org/books/count.php?book=290&action=download&goto=files/trajem/altarikhalawsat12.zip).
(Arab) —–. At-Tarikh al-Kabir (http://www.sahab.org/books/count.php?book=318&action=download&goto=files/trajem/tarikhkbeer.zip).
(Arab) —–. Khalq Af’al al-Ibad (http://www.sahab.org/books/count.php?book=1457&action=download&goto=files/aqeeda/%D8%AE%D9%84%D9%82%20%D8%A3%D9%81%D8%B9%D8%A7%D9%84%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A8%D8%A7%D8%AF.rar) Imam Bukhari

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply