Gagahnya Sang Penembak

Gagahnya Sang Penembak

Perang pemikiran menfitnah Islam di Indonesia

Dulu ada sebutan Islam Fundamentalis, Gerakan Jihad, dan Islam Sempalan namun sekarang ada Aktifis Islam Teroris dan Kelompok Islam Anarkis. Stigma di atas secara prinsip merupakan pola perang yang dilakukan oleh kufar di akhir zaman ini. Inilah realita perang pemikiran yang sedang dilancarkan. Nah, melalui stigma di atas, pola pikir masyarakat, dan juga para tokohnya digiring membenci dan menyudutkan pada sekelompok masyarakat yang diberi stigma di atas. Hasil dari perang pemikiran tersebut adalah selalu ada pembenaran jika sekelompok masyarakat ditangkat, dianiaya, dipenjara, dan bahkan ditembak di tempat tanpa proses hukum.

Gagahnya Sang Penembak

Saya mendenger obrolan para sopir lyn angkutan pedesaan di pangkalan sopir barat Garasi Bus Lestari Tulungagung di saat menunggu Bus ke Surabaya hari Rabu yang lalu. Mereka mengeluarkan berbagai pernyataan, analisis dan argumen terkait penembakkan yang terjadi di dekat tempat mereka berkumpul. Obrolan gaya pak sopir, ditambah tukang parkir dan pemilik warung memberikan informasi bagiku bahwa yang tertembak mati tidak ada perlawanan. Tidak dalam situasi yang membahayakan. Tidak menunjukkan bahwa mereka membawa sajam atau alat membahayan lainnya. Terlepas dari stigma mereka itu manusia teroris atau apalah julukannya mereka itu masih rakyat Indonesia yang memiliki haq untuk diproses secara hukum. Mereka memiliki haq untuk melakukan pembelaan saat dituduh dalam stigma di atas.

Sepulang dari Surabaya, Rabu malam kusempatkan sholat tarawih di mushola deket kejadian penembakkan. Para jama’ah sehabis tarawih juga mendiskusikan penembakkan di halte bus perempatan rumah sakit lama Tulungagung. Mereka ngobrolkan peristiwa dan sosok orang kampung yang tertembak. Salah satu pertanyaan yang tak terjawab oleh mereka adalah bagaimana sosok guru honorarium SD dan perangkat desa terlibat kasus-kasus besar pada kesehariannya hanyalah penduduk desa biasa. Mereka itu tak pernah menyembunyikan diri. Tak pernah bepergian jauh. Beraktifitas sebagaimana penduduk desa lainnya. Tak pernah melindungi rumahnya. Kalau pak RT mau nangkap saja bisa, apalagi perangkat desa dan apalagi pak polisi. Pertanyaan mendasar obrolan hanyalah obrolan yang hilang begitu saja sesudah para jamaah melakukan tadarus al Qur’an.

Betapa murah nyawa di sekitar kita. Betapa hebatnya dan gagahnya para penembak berhasil melenyapkan nyawa rakyatnya sendiri.

Semoga ada wacana bagi yang berkenan melindungi dirinya dari jebakan perang pemikiran yang sedang dikobarkan dunia internasional.

Imam Mawardi

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply