Cinta Apa Yang Kita Beri

Cinta Apa Yang Kita Beri
Tere Liye·27 Agustus 2016

Pengorbanan adalah bukti nyata cinta. Tidak ada pengorbanan, maka bagaimana kita tahu cinta itu sungguhan? Ujian, juga adalah salah-satu bukti cinta, tanpa diuji, dini sekali jika orang mendadak bilang cinta sejati. Pun dalam urusan ber-agama. Pengorbanan dan ujian adalah dua hal yang harus dilewati siapapun yang mencintai agamanya. Mencintai Tuhannya. Mencintai pemahaman2 terbaik yang ada, yang menuntun hidup kita menjadi tenang, damai dan tenteram.

Maka, saat agama memanggil kita untuk berkurban? Apa jawaban kita? Tapi, tapi dan tapi? Atau kita akan menjawab mantap: ‘sami’na wa atho’na’, saya dengar dan saya taat. Beberapa hari lagi, Idul Adha akan tiba, perintah berkurban, menyembelih hewan ternak (domba, kambing, sapi) telah datang.

Apakah berkurban butuh uang? Itu betul. Tapi sejatinya berkurban butuh niat. Ada anak SMP, menabung berbulan2 demi bisa berkurban. Ada pemulung, menabung sejak bertahun2 lalu agar bisa berkurban. Tapi ada yang menghabiskan jutaan uang hanya demi membeli gagdet canggih, terbeli itu HP seharga 5-6 juta, tapi seumur hidup dia tidak pernah berkurban. Ada yang sekali duduk di kedai fast food habis 200 ribu, sekali beli baju habis 500 ribu, tapi satu kambing, yg harganya di bawah 2 juta, itupun hanya setahun sekali, beraaaat banget untuk disisihkan.
Cinta apa yang kita berikan pada agama ini?

Cinta Apa Yang Kita Beri

Cinta Apa Yang Kita Beri

Nabi Ibrahim, saking cintanya dengan Tuhannya, dia rela menyembelih anaknya. Dan Allah membalas pengorbanan itu dengan cinta yg tak kalah besar. Anaknya digantikan hewan ternak, Nabi Ibrahim mendapatkan kemuliaan tiada tara di antara milyaran umat manusia. Tidakkah kita tergerak hati untuk meneladani kisah tersebut?

Insya Allah, uang yg kita keluarkan utk membeli hewan ternak tidak akan sia-sia. Allah akan membalasnya dengan yg lebih baik. Darah, daging, bulu hewan itu tidak akan sampai kepada Allah, karena sejatinya Allah tidak butuh itu, tapi ketakwaan kita, keyakinan kita yg sampai–dan kitalah yg membutuhkannya.

Sy percaya, barangsiapa mau melapangkan hatinya berkurban, besok lusa, semua akan terasa ringan dan jadi kebutuhan setiap tahun berkurban. Kemudian dia akan melangkah ke tahap lebih baik lagi, bersedia berinfaq sedekah, bersedia berbagi, bersedia membantu orang lain. Zakat? Well, kita tdk membahas zakat, dek, karena itu perintah wajib. Masa’ yg wajib masih kita diskusikan lagi? Itu posisinya: DILAKSANAKAN!

Silahkan dicek saldo tabungan masing2, jika masih ada, tidak akan digunakan untuk keperluan penting dan mendesak, aduhai, bolehlah untuk berkurban. Tidak perlu repot beli kambing, bisa dititipkan ke masjid2 terpercaya. Atau ke lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa, dll. Boleh cari yg paling murah, di searching, tidak masalah. Tapi sy harus beli HP baru nih? Sy harus beli ini, itu? Bagaimana dong?

Panggilan berkurban telah datang. Terlepas dari urusan dunia yg setiap hari memabukkan, kecintaan kita pada dunia dan isinya, ijinkan sy menutup catatan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: cinta apa yang kita berikan pada agama ini?
*Tere Liye

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply