Cara Mengendalikan Rasa Marah

Cara Mengendalikan Rasa Marah

Suatu hari seorang murid bertanya kepada Guru, bagaimana cara mengendalikan diri dari amarah sebab dia mengaku bila seseorang melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan atau yang mengancam harapannya dan atau yang menjatuhkan harga dirinya, maka itu membuatnya marah besar dan kalau bisa melakukan pembalasan atas kedzoliman yang dilakukan orang itu kepadanya.

Guru tersenyum lalu menjawab, “Apa kau serius ingin berhenti dari sifat pemarah?”

“Serius, Guru.”

“Meskipun engkau ada dipihak yang benar sekalipun atasnya tapi tetap ingin tidak marah?”

“Na’am guru.”

“Baiklah. Perhatikanlah saat seseorang di luaran sana melakukan perbuatan yang membuatmu menjadi marah padanya. Perhatikanlah telingamu.” Jawab Guru tapi membuat si murid bingung.

“Memperhatikan telinga nanda? Ada apa dengan telinga nanda, guru?”

“Ya, perhatikan telingamu. Sebab engkau tidak akan bisa memperhatikan dengan matamu.”

“Afwan, guru. Nanda bertambah bingung. Apa hubungan keinginan berhenti jadi pemarah dengan memperhatikan telinga dan memperhatikan mata?”

Guru tersenyum beberapa saat sebelum menjawab.

“Perhatikanlah saat engkau marah. Perhatikanlah suara bisikan yang menyuruhmu agar marah kepadanya, perhatikanlah suara di dekatmu itu. Di sebelah kirimu yang terkadang lebih engkau dengarkan dan turuti daripada nasehat bijak yang datang kepadamu selama ini.

Apakah dirimu akan menuruti ‘nasehat’ agar tetap marah?

Perhatikan juga suara yang ada di sisi kanan dan kiri orang yang membuatmu marah itu. Perhatikan suaranya yang mengatakan bahwa mereka sudah siap untuk menjadi saksi dan mencatat apakah dirimu akan tetap marah kepadanya atau tetap sabar dan santun dalam lisan dan laku. Itu alasan agar kau lebih memperhatikan telingamu daripada matamu.

Apakah dirimu memang sengaja dan sadar akan dicatat melakukan marah atau justru bersabar dan memaafkannya?

Marahlah bila memang engkau masih merasa itu adalah bagian dari hidupmu. marahlah seperti yang kau inginkan.

Dan sebagai Gurumu, aku sudah menasehatimu sebagaimana dalam riwayat Bukhori menyebutkan dari Abu Hurairah radhiallahuanhu: Sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam, ‘(Ya Rasulullah) nasihatilah saya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Jangan kamu marah.’ Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda kembali, ‘Jangan engkau marah.’

Aku sudah menasehatimu tentang marah. Perhatikan baik-baik agar dirimu selamat dalam hidup ini.”

~ IH 22052013 @bumi Depok – sebab Hidup adalah Cinta

Perumahan Syariah

Advertisement

No comments.

Leave a Reply