Biografi Imam Syafi’i

Biografi Singkat Imam Syafi’i

Imam Syafi’i atau yang memiliki nama lengkap Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) Lahir di Asqalan Gaza, Palestina, 150 H / 767 – Fusthat, Mesir 204H / 819M. Imam syai’i adalah seorang mufti besar Islam Sunni dan juga pendiri mazhab Syafi’i. Salah satu dari empat mazhab  disamping  Abu Hanifah (mazhab Hanafi), Malik (Mazhab Maliki), Ahmad bin Hanbal (Mahzab Hambali).

Imam Syafi’i juga termasuk kerabat dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, beliau termasuk dalam Bani Muththalib, yakni keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad. Beliau juga Imam di bidang ilmu tafsir dan ilmu hadits. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) dan dikenal dengan keadilan dan kecerdasannya. Di samping ilmu agama, beliau juga dikenal sebagai penyair yang ahli di bidang sastra arab.


Profil Singkat Imam Syafi’i

 

  • Nama lengkap: Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Muttalibi Al-Qurashi
  • Nama gelar kehormatan: Alimul Ashr, Nashirul Hadits, Imam Quraish, Al-Imam Al-Mujaddid, Faqihul Millah
  • Tempat lahir: Gaza, Palestina.
  • Tanggal lahir: tahun 767 M / 150 H.
  • Wafat: Akhir malam Rajab tahun 820 M / 204 H.
  • Tempat wafat: Kairo, Mesir.
  • Aliran Islam: Ahlussunnah Wal Jamaah
  • Ayah: Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muttalib bin Abdu Manaf.
  • Ibu: Fatimah binti Abdullah Al-Uzdiyah.
  • Putra: Abu Utsman dan Abul Hasan
  • Putri: Fatimah dan Zainab

Kelahiran Imam Syafi’i

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H, tahun yang sama dengan wafatnya ulama besar yaitu Imam Abu Hanifah. Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

Saat usia beliau mencapai dua tahun, ibunya mengajak pindah ke Hijaz dimana sebagian besar penduduknya berasal dari Yaman, ibunya sendiri berasal dari Azdiyah. Lalu
keduanya menetap di sana. Namun saat usianya sudah mencapai sepuluh tahun, ibunya mengajak pindah ke Makkah lantaran khawatir akan melupakan nasabnya.

Ketika menginjak usia tiga belas tahun, beliau juga memperdengarkan bacaan al-Qur`an kepada orang-orang yang berada di Masjid al-Haram, beliau mempunyai suara yang sangat merdu. Suatu saat Imam Hakim menceritakan hadits yang berasal dari riwayat Bahr bin Nashr, beliau berkata: “Jika kami ingin menangis, kami mengatakan kepada sesama teman “Pergilah kepada Syafi`i !” bila kami sudah sampai dihadapannya, beliau membuka dan membaca al-Qur`an sehingga manusia yang ada di sekitarnya banyak yang berjatuhan di hadapannya lantaran kerasnya menangis. Kami terkagum-kagum dengan keindahan dan kemerduan suaranya, sedemikian tinggi dia memahami al-Qur`an sehingga sangat berkesan bagi para pendengarnya.

Nasab Imam Syafi’i

Nasab dari pihak Ayah.
Imam Syafi’i adalah keturunan dari al-Muththalib, jadi beilau termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam di Abdul-Manaf.

Dari nasab ini, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, merupakan saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Selain itu saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, yang bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’i bin As-Sa’ib ra’ inilah bayi yatim ini dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi.

Dengan demikian nasab Imam Syafi’i sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Hasyim bin Abdi Manaf yang kemudian melahirkan Bani Hasyim merupakan saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf yang melahirkan Bani Mutthalib, untuk itu Rasulullah SAW bersabda:
“ Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.”—HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 – 66

Nasab dari pihak Ibu.
Ibunya bernama Fatimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Orang-orang mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui Hasyimiyah melahirkan keturunan kecuali Imam Ali bin Abi Thalib dan Imam Syafi`i.

Keluarga Imam Syafi’i

Isteri Imam Syafi`i.
Beliau menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hamidah binti Nafi` bin Unaisah bin Amru bin Utsman bin Affan.

Anak-anak Imam Syafi`i.
1. Abu Usman Muhammad, dia seorang hakim di kota Halib, Syam (Syiria).
2. Fatimah.
3. Zainab.

Masa belajar Imam Syafi’i

Masa belajar Imam Syafi’i di Makkah

Saat usianya menginjak ke tujuh, Syafi`i telah berhasil menghafal al-Qur`an dengan baik. Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti yang ada di sana Muslim bin Khalid Az Zanji, beliau diizinkannya memberi fatwa saat masih berusia 15 tahun. Beliau mulai senang mempelajari fiqih sesudah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya.

Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah. Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.

Guru Imam syafi’i lainnya dalam fiqih adalah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl serta masih banyak lagi yang lainnya. Beliau juga
semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Masa belajar Imam Syafi’i Madinah

Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.

Di majelis Imam Malik bin Anas ini, beliau menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’. Kecerdasannya membuat Imam Malik sangat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Selain itu beliau juga menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Bisa diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Imam Syafi’i juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau juga banyak menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Namun sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits dan mempunyai pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada Taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga saat beliau sudah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi’ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Masa belajar Imam Syafi’i di Yaman

Setelah itu Imam Syafi’i pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya.

Masa belajar Imam Syafi’i di Irak

Dari Yaman, beliau melanjutkan lawatannya ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Beliau juga mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya. Beliau ke Baghdad pada tahun 183 dan tahun 195, di sana Imam Syafi’i menimba ilmu dari Muhammad bin.

Masa belajar Imam Syafi’i di Mesir

Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya Imam Syafi’i

Kitab-kitab Karya Imam Syafi`i.

1. Al-Risalah al-Qadimah (kitab al-Hujjah)
2. Al-Risalah al-Jadidah.
3. Ikhtilaf al-Hadits.
4. Ibthal al-Istihsan.
5. Ahkam al-Qur`an.
6. Bayadh al-Fardh.
7. Sifat al-Amr wa al-Nahyi.
8. Ikhtilaf al-Malik wa al-Syafi`i.
9. Ikhtilaf al- Iraqiyin.
10.Ikhtilaf Muhammad bin Husain.
11.Fadha`il al-Quraisy
12.Kitab al-Umm
13.Kitab al-Sunan

Ar risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i merupakan seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau bisa memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, ”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”.

Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah, ”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap.”

Al Hujjah

Kitab “Al Hujjah” adalah madzhab lama dan diriwayatkan oleh empat imam Irak, yakni  Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i. Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Qalamullah, barang siapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm

Kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir, yakni Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i
mengatakan tentang madzhabnya.

”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.”

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”


“Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

“Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”

“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Mazhab Syafi’i

Dasar madzhab Syafi’i adalah Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan, ”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah).”

Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi’i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan
tidak dikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”
Beliau bicara tentang Ahli Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.” Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”

Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah islam, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala. Imam Syafi’i tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Imam Syafi’i  mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah mempunyai nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya.

Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga sudah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Bila ada yang menyelisihi demikian sesudah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Dan bila belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Sebab ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak bisa digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,

Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Guru-guru Imam Syafi`i.

1. Muslim bin Khalid al-Zanji, seorang Mufti Makkah pada tahun 180 H. yang bertepatan dengan tahun 796 M. dia adalah maula Bani Mkhzum.
2. Sufyan bin Uyainah al-Hilali yang berada di Makkah, dia adalah salah seorang yang terkenal kejujuran dan keadilannya.
3. Ibrahim bin Yahya, salah satu ulama di Madinah.
4. Malik bin Anas, Imam Syafi`i pernah membaca kitab al-Muwatha` kepada Imam Malik sesudah dia menghafalnya diluar kepala, kemudian dia menetap di Madinah sampai Imam Malik wafat pada tahun 179 H. bertepatan dengan tahun 795 M.
5. Waki` bin Jarrah bin Malih al-Kufi.
6. Hammad bin Usamah al-Hasyimi al-Kufi
7. Abdul Wahab bin Abdul Majid al-Bashri.

Murid-murid Imam Syafi’i

1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

Keistimewaan Imam Syafi`i.

  • Keluasan ilmu pengetahuan dalam bidang sastra dan nasab, yang sejajar dengan al-Hakam bin Abdul Muthalib, dimana Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Keturunan (Bani) Hasyim dan keturunan (Bani) Muthalib itu hakekatnya adalah satu.” (H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang Wasiat, bab “Qismah al-Khumus,”hadits no. 2329.)
  • Sangat kuat menghafal al-Qur`an dan kedalaman pemahaman antara yang wajib dan yang sunnah, dan kecerdasan terhadap semua disiplin ilmu yang beliau punyai yang tidak semua manusia bisa melakukannya.
  • Kedalaman ilmu tentang Sunnah, beliau bisa membedakan antara Sunnah yang shahih dan yang dha`if. Dan ketinggian ilmunya dalam bidang ushul fiqih, mursal, maushul, juga perbedaan antara lafadl yang umum dan yang khusus.
  • Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Para ahli hadits yang dipakai oleh Imam Abu Hanifah tidak diperdebatkan sehingga kami bertemu dengan Imam Syafi`i. Dia adalah manusia yang paling memahami kitab Allah swt. dan Sunnah Rasulullah saw. serta sangat peduli terhadap hadits beliau.”
  • Karabisy2 berkata: “Imam Syafi`i adalah rahmat bagi umat Nabi Muhammad saw.” (Karabisy dinisbatkan pada profesi penjual pakaian, namanya adalah Husain bin Ali bin Yazid.)
  • Dubaisan (Namanya adalah Abu Dubais bin Ali al-Qashbani) berkata: “Kami pernah bersama Ahmad bin Hambal di Masjid Jami` yang berada di kota Baghdad, yang dibangun oleh al-Manshur, lalu kami datang menemui Karabisy, lalu kami bertanya: Bagaimana menurutmu tentang Syafi`i ? kemudian dia menjawab: Sebagaimana apa yang kami katakan bahwa dia memulai dengan Kitab (al-Qur`an), Sunnah, serta ijma` para ulama`. Kami orang-orang terdahulu sebelum dia tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan Sunnah, sehingga kami mendengar dari Imam Syafii tentang apa itu al-Qur`an Sunnah dan ijma`.”
  • Humaidi berkata: “Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kelompok rasionalis kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkannya. Kemudian Imam Syafi`i datang kepada kami, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu.”
  • Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandapai dalam bidang fiqih (faqih) terhadap al-Qur`an daripada pemuda quraisy ini, dia adalah Muhammad bin Idris al-Syafi`i.
  • Ibnu Rahawaih pernah ditanya: “Menurut pendapatmu, bagaimanakah Imam Syafii dapat menguasai al-Qur`an dalam usia yang masih relatif muda? lalu dia menjawab: Allah swt. mempercepat akal pikirannya lantaran usianya yang pendek.”
  • Rabi` berkata: “Kami pernah duduk bersama di Majelisnya Imam Syafi`i setelah beliau meninggal dunia di Basir, tiba-tiba datang kepada kami orang A`rabi (badui). Dia
  • mengucapkan salam, lalu bertanya: Dimanakah bulan dan matahri majelis ini? kemudian kami mejawab: beliau telah wafat. Kemudian dia menangis lalu berkata: Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat dan mengampuni semua dosanya. Sungguh beliau telah membuka hujjah yang selama ini tertutup, telah merubah wajah orang-orang yang ingkar dan juga telah membuka kedok mereka, dan juga telah membuka pintu kebodohan disertai penjelasannya, lalu tidak beberapa lama orang badui itu pergi.”

Wafatnya Imam Syafi`i.

Imam Syafi’i menderita penyakit ambeien pada akhir hanyatnya hingga mengakibatkan beliau wafat di Mesir pada malam Jum`at setelah shalat Maghrib, yakni pada hari
terakhir di bulan Rajab. Imam Syafi’i di makamkan pada Hari Jum`at pada tahun 204 H. bertepatan tahun 819/820 M. Makam beliau berada di kota Kairo, di dekat masjid Yazar, yang berada dalam lingkungan perumahan yang bernama Imam Syafi`i. Biografi Imam Syafi’i.

 

Refferensi

Islamic Law: The Qurʼan, the Muwattaʼ and Madinan ʻAmal, by Yasin Dutton, pg. 16
Alkhoirot | http://www.alkhoirot.net/2013/12/biografi-imam-syafii.html
Biografi lengkap Imam Shafi’i | http://www.sunnah.org/publication/khulafa_rashideen/shafii.htm
Biografi singkat Imam Shafi’i | http://www.haqislam.org/biographies/imam-shafiee.htm
Concise Summary Imam Shafi’i | http://www.al-inaam.com/library/shaafiee.htm
Imam Asy-Syafi’i | http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Asy-Syafi%27i
Mazhab Asy-Syafi’i | Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab_Syafi%27i

Perumahan Syariah

Advertisement

Trackbacks/Pingbacks

  1. Salahuddin Al-Ayyubi Mengembalikan Mesir | Kabar Islam - August 13, 2015

    […] di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Salahuddin al-Ayyubi melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam […]

Leave a Reply